Dari Sebuah Prompt Menjadi Nyata: Behind the Scenes Pembuatan EventKampus Tiket

Halo semuanya! Jika Anda pernah merasa ribet saat mencari informasi seminar kampus, atau

panik karena kehilangan tiket kertas sesaat sebelum acara dimulai, percayalah, Anda tidak

sendirian. Keresahan kolektif inilah yang melatarbelakangi lahirnya EventKampus Tiket,

sebuah aplikasi yang dirancang agar mahasiswa bisa mendaftar acara kampus semudah

scrolling media sosial.

Tampilan personalisasi layar utama aplikasi

Namun, yang membuat proyek ini seru bukan cuma hasil akhirnya, melainkan bagaimana

aplikasi ini dikerjakan. Ya, aplikasi ini lahir dari kolaborasi antara logika manusia dan eksekusi

sintaks oleh kecerdasan buatan (AI). Mari saya ceritakan sedikit proses di balik layarnya.

¦Tujuan dan Fitur Unggulan

Tujuan utama EventKampus Tiket adalah menjadi platform terpusat yang praktis. Tidak ada lagi
link pendaftaran dari Google Form yang tersebar sporadis di berbagai grup angkatan. Dari
layar utama saja, pengguna sudah disuguhkan akses cepat ke menu E-Ticket, Jadwal, hingga
rekomendasi acara unggulan bulan ini.

E-Ticket aktif dengan integrasi QR Code cerdas.

Salah satu fitur yang paling saya banggakan adalah E-Ticket Pintar. Setelah mendaftar, tiket

digital Anda akan langsung muncul di beranda lengkap dengan QR Code, detail kursi (seperti

Kursi A-387), dan tombol unduh/bagikan. Selain itu, fitur daftar acara di bawahnya sudah

dilengkapi dengan category chips. Mau cari seminar “Teknologi” atau “Bisnis”? Tinggal tap, dan

daftar acara akan langsung tersaring secara dinamis.

¦Navigasi yang intuitif

Sebuah aplikasi yang fiturnya banyak akan percuma jika pengguna tersesat di dalamnya. Oleh

karena itu, saya merancang Bottom Navigation Bar yang sangat sederhana namun fungsional.

Berawal dari placeholder statis yang hanya menampilkan teks “Segera hadir”, kini menu

navigasinya sudah hidup.

Halaman dompet tiket pengguna
Halaman penjelajahan kategori

Pengguna bisa dengan mudah melompat ke tab Jelajahi untuk mencari seminar di luar

fakultas mereka, atau mengecek riwayat pendaftaran di tab Tiket Saya. Transisi antar layarnya

diatur menggunakan state management lokal, sehingga perpindahan terasa sangat mulus

tanpa perlu loading ulang.

¦ Keluh kesah “menyutradarai” AI

Banyak yang mengira membuat aplikasi dengan AI itu seperti sihir. Tinggal ketik satu kalimat,

langsung jadi aplikasi siap di-publish. Nyatanya? Sama sekali tidak! Tantangan terbesar dalam

proyek ini adalah menemukan seni meracik prompt yang pas.

Integrasi data profil mahasiswa

Awalnya, saya memerintahkan AI untuk membangun fondasi UI dasar. Hasilnya memang
memukau secara visual, tapi benar-benar statis. Nama profil default-nya pun masih
menggunakan nama acak. Dari situ, saya harus melakukan iterasi prompt lanjutan yang jauh
lebih ketat: meminta AI mengubah data menjadi nama saya, NIM T0123018, dan jurusan
Sistem Informasi. Saya juga harus secara spesifik memerintahkan AI untuk menyuntikkan
logika interaktivitas, seperti memunculkan pesan aksi saat tombol “Daftar Sekarang” ditekan,
serta memastikan layout-nya aman dari render overflow di layar kecil.

¦ Kesimpulan

Membangun EventKampus Tiket menyadarkan saya bahwa AI adalah co-pilot yang sangat luar

biasa untuk urusan prototyping. Ia bisa menulis ratusan baris kode tata letak dalam hitungan

detik. Namun, visi, logika navigasi, penyelesaian bug fungsional, dan pemahaman tentang apa

yang sebenarnya dibutuhkan oleh mahasiswa tetaplah menjadi tugas mutlak seorang manusia

(developer).

Semoga aplikasi ini ke depannya bisa benar-benar diimplementasikan untuk memudahkan

birokrasi acara di kampus kita tercinta!